Aku Baru Saja Membaca DANUR

Danur. Danur adalah air yang keluar dari tubuh manusia yang sudah tidak bernafas, jantugnya berhenti berdetak, hanya diam terbujur kaku.

Aku baru saja membaca buku Danur karya Risa Saraswati (@risa_saraswati), seorang penyanyi kenamaan yang sudah cukup terkenal di Indonesia. Aku mengetahuinya dengan sebutan Sarasvati (@sarasvatimusic). Risa, begitu ia biasa disebut, mempunyai suatu anugerah, anugerah yang bila diturunkan kepadaku aku tidak tahu apakah aku akan menyebutnya anugera atau malah kutukan, anugerah itu adalah kemampuan melihat makhluk yang tak lagi hidup (makhluk yang tak lagi hidup, itu sebutanku terhadap mereka sekarang. setidaknya karena aku membaca buku Danur). Aku sangat terkesan dengan cerita hidupnya dalam memiliki anugerah tersebut.

Aku yang seorang penakut, sangat terkesan dengan Risa dan anugerahnya, terutama dengan persahabatan beda dunia yang ia jalin dengan kelima anak Belanda yang tak lagi hidup. Peter, William, Hans, Hendrick dan Jahnsen. Dan Risa. Kelimanya berbeda dunia dan dimensi dari Risa. Dan aku pastinya. Dunia dan dimensiku sama seperti Risa, walau aku tidak mengenalnya secara dekat. Bahkan ia tidak tahu-menahu tentang diriku. Aku hanyalah seorang pembaca bukunya, Danur, dan juga sempat mendengar lagunya dan namanya beberapa kali. Peter cs adalah sahabat-sahabat Risa dari sejak kecil, walaupun pernah menghilang dari kehidupan Risa berbelas-belas tahun, tapi aku yakin mereka adalah makhluk-makhluk baik yang dibumbui dengan karakter nakal layaknya anak kecil, seperti apa yang diceritakan Risa dibukunya, Danur.

Peter, Will, Hans, Hendrick dan Jahnsen adalah lima bocah cilik berbeda dimensi dengan kita (setidaknya, bila kamu, yang membaca tulisan ini, masih berwujud manusia). Namun, entah mengapa aku sangat mengagumi mereka. Entah karena aku yang sangat suka dengan anak kecil bule berkarakter seperti mereka, atau mungkin karena mereka yang sangat menepati janji dan mempunyai kisah hidup yang jarang kutemukan, atau karena memang tulisan-tuisan Risa yang berhasil membuat pembacanya bisa mengagumi dan merasa dekat atau ingin dekat dengan Peter cs.

Aku tidak tahu apakah Peter cs bisa merasakan betapa aku mengagumi mereka dan ingin sekali rasanya memeluk mereka bila mendengar cerita-cerita di kala mereka hidup. Terkadang, aku jadi berpikir ingin mempunyai anugerah seperti Risa agar bisa melihat Peter, Will, Hans, Hendrick, Jahnsen, Elizabeth, Teddy, atau pun Sarah. Namun, cepat-cepat kuurungkan pikiran konyol tersebut agar Tuhan tidak menganggapku serius. Karena aku tahu bila aku benar-benar mendapatkannya, aku harus melihat mereka yang tak tampak secara kasat mata dengan sosok yang mengerikan lainnya. Karena makhluk yang tak lagi hidup, tidak hanya keluarga Belanda yang ada dirumah nenek Risa dulu, tapi banyak makhluk-makhluk seperti itu yang pribumi dan entah mengapa dalam pikiranku, mereka adalah makhluk-makhluk mengerikan. Setidaknya itu yang kulihat di film-film horor lokal (jika ada yang merasa keberatan, maka salahkan film horor yang membentuk mindset seperti itu dalam otakku).

Sekarang aku berada dikampusku. Tepatnya di kantin kampus. Aku duduk sendiri di pagi hari ini karena terlalu cepat datang ke kampus untuk kelas pengganti di hari Sabtu. Ini juga bisa dibilang hari terpagiku pada semester ini berada dikampus untuk keperluan kuliah. Padahal semalam aku tidur hampir jam 3 dini hari. Kau tahu apa yang menyebabkanku bisa bangun begitu pagi di hari Sabtu dan berangkat lebih awal tanpa rasa malas atau menyesal kepagian? Karena aku butuh waktu sendirian untuk menorehkan kesanku sehabis membaca buku Danur karya Risa Saraswati. Kenapa harus pagi ini? Karena sampai pagi ini, rasa kagumku makin bertambah kepada 6 orang sahabat berbeda dimensi dalam buku itu. Dan saat inilah sebenarnya aku ingin sekali Peter cs merasakan kekagumanku pada mereka dan memberitahunya pada Risa, lalu dalam sekejapan mata mereka mendatangiku. Namun, sampai saat ini pun aku tak yakin dengan ideku tersebut.

Sesekali aku melihat sekelilingku, apakah ada anak bule keturunan Belanda bermur 6-13 tahun disekitarku dan menanyakan padanya “Apakah ada diantaramu yang bernama Peter? William? Hans? Hendrick? Jahnsen?”. tetapi tak ada seorang pun yang menunjukkan ciri-ciri tersebut sehingga aku pun tidak bisa menghujani mereka dengan pertanyaan konyolku tadi. Jujur saja, aku memilih waktu pagi terang benderang seperti ini agar aku tidak ketakutan bila melihat mereka. Hehehehe..

Sekarang di kantin ini semakin ramai orang. Walau tak seramai hari-hari biasanya. Dan aku semakin yakin mereka yang kuharapkan hadir semakin tidak ingin datang dengan keadaan seramai ini. Tak apa, toh aku hanya berharap. Tulisan ini aku ketik dengan handphoneku. Karena laptop kesayanganku yang sangat berat itu tak ubawa dan lebih sedih lagi, aku tidak membawa alat tulisa walau aku membawa buku catatanku. Hahahaha! Ya, aku jarang sekali membawa alat tulis ke kampus karena aku tahu ada teman-temanku yang selalu membawa lebih. Hahahaha! Terlebih lagi modalitas belajarku yang dominan adalah audio, bukan visual, maupun kinestetik. 

Baiklah, sudah mulai ramai dengan celoteh orang disini. Aku mulai tidak bisa berkonsentrasi dengan tulisan karena aku cepat sekali terdistraksi dan khayalan bodohku tentang Peter cs yang akan mendatangiku sekedar say hello dan mengenalkan diri. Sebaiknya, aku sudahi dulu karena 5 menit lagi aku harus masuk kelas..

See ya in another post! ;;)

– Lady

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s