My Imagination Story by Listening The Trees and The Wild’s songs #4 Kata

terlepas dari lirik atau pun maksud dari lagu-lagu ini. hanya saja, ketika saya mendengarkan lagu mereka, timbul semacam video klip di kepala saya. inilah yang akan saya bagi. bukan pengalaman saya.



“Aku bertengkar dengannya. Sesosok wanita yang kubanggakan. Wanita yang telah menghadirkanku di dunia yang penuh kebohongan ini. Dia membandingkan aku. Apa yang ku lakukan hampir semuanya salah baginya. Aku membanting semua benda yang ada di sekitar kami di depannya. Ia mengarahkan matanya tajam kepadaku dan mengeluarkan bilah-bilah pisau dari mulut tajamnya yang kecil. Aku tak tahan. Aku beranjak dengan teriakan dan jeritan hati yang dikuasai amarah.”

“Kuajak kakiku melangkah ke tempat kost ku. aku mematung di kasur, lalu sesekali menyeka air mata bilamana ia jatuh. aku memandang sekitar. Terlihat olehku bingkai manis yang terpajang disamping tv. Aku mengambilnya dan memperhatikannya. Dua wanita tersenyum didalamnya. Menyuarakan air muka yang bahagia. Aku dan dia. Aku merangkulnya dan menciumnya.”

“Bingkai ini seolah menjadi pintu memoriku tentang wanita itu. Terbayang ketika aku berbagi cerita dengannya, makan bersama dengannya, mendengar lelucon konyolnya, mendengar tawanya, makan bersamanya, mendengarkan lagu favorit kami bersama, menonton film di bioskop bersama, belanja bersama, menemaniku di saat gelap. Ia selalu tahu apa yang kubutuhkan. Ia selalu tahu apa yang cocok untukku. Ia selalu berkomentar tentangku. Ia memperhatikanku. Ia menemaniku. Ia mengkhawatirkanku.”

“Ia adalah ibuku. Seorang wanita yang sering kuceritakan pada teman-temanku untuk aku banggakan. Seorang wanita yang darahnya mengalir di darahku. Yang rahimnya melindungiku. Yang berjuang hidup dan mati untuk hidupku. Aku mulai mengenang jasanya. Ia sangat senang memilikiku. Ia adalah seseorang yang selalu sayang padaku. Tak akan pernah habis dan luntur. Ia rela sakit-sakitan untukku.Kututup lagi pintu memori itu dan kembali memandangi bingkai itu. Kuperhatikan wajahnya. Pernahkah ia merasa lelah melakukan semua ini untukku? Ia tak pernah mengeluhkannya. Lalu apa balasanku?”

“Aku meletakkan figura itu kembali di tempatnya. Aku menyambar tas dan jaketku seraya beranjak dari kamar kost ku yang berantakan seperti kapal pecah. Dan aku kembali teringat. Ia, ibuku, adalah orang yang selalu merapikan dan membersihkan kamarku ini bila ia datang sesekali menjengukku. Hasrat rindu ini menjadi naik pitam. Aku menutup pintu cepat-cepat dan melangkahkan kaki menyusuri tempat-tempat yang kulalui tadi.”

“Aku sampai pada tempat dimana aku telah meberantakinya dengan membanting sana-sini. Namun, tempat itu telah rapi. Ini pasti ulahnya lagi. Aku membuka pintu kamarnya. Aku langsung menghambur memeluknya. Aku menangs di pelukannya. Di pelukan seorang idolaku, ya, harusnya ia adalah idolaku selama ini. kenapa aku baru menyadarinya? Kami menangis dalam balutan pelukan erat yan seolah tak ingin kami lepas. ia melepas pelukan itu. Aku memandangi wajahnya. Guratan diwajahnya memancarkan sinar yang tenang. Tubuhnya yang tak sekuat dulu telah keriput. Ya Tuhan, aku menyayangi wanita tua ini. wanita yang berjuang diantara dunia dan akhirat untukku. Lindungi ibuku, Tuhan. Amin..”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s